Dua Hari Untuk Menemukan-Mu dan Menemukannya

Sendy Hadiat (kanan) dan Natasya Wisaksono (kiri)

Pernahkah terbayangkan untuk menulis buku dalam waktu dua hari? Tentu tidak semua orang dapat melakukan hal tersebut. Namun, penulis yang satu ini mampu menyelesaikan penulisan otobiografinya selama dua hari. Dia adalah Sendy Hadiat, penulis buku Menemukan-Mu dan Menemukannya. Selain itu, yang lebih mengagumkan adalah kenyataan bahwa Sendy menulis di tengah perjuangannya untuk mengatasi bipolar disorder yang dideritanya.

Dalam acara peluncuran bukunya pada Minggu (3/12) di kantor Indscript Creative, Bandung yang disiarkan melalui live video pada aplikasi facebook, Sendy menceritakan pengalaman ketika menulis buku pertamanya ini. Kepada pemandu acara, Natasya Wisaksono dari Joeragan Artikel, Sendy menuturkan bahwa ia adalah peserta program Private Writing Coaching (PWC) dengan mentor Indari Mastuti. “Saya menulis dari jam 9 pagi sampai jam 8 malam pada hari pertama, sedangkan pada hari kedua dari jam 08.40 sampai jam 16.00,” ujar Sendy ketika ditanya mengenai cara penulisan bukunya.

Buku setebal 160 halaman ini menceritakan pengalaman hidup Sendy yang kurang mulus sejak kecil, menjadi penderita bipolar disorder, dan perjalanan hijrahnya menjadi muslim yang lebih baik. Menurut Sendy, ia sudah memiliki keinginan untuk menuliskan pengalaman hidupnya sejak beberapa tahun yang lalu. Untuk menuliskan kisahnya, ia mengaku melakukan persiapan tertentu. Pertama, menyiapkan fisik dan mental untuk mengingat kembali dan menceritakan pengalaman hidupnya yang pahit. Kedua, selalu menggenggam kapur barus dari merk tertentu untuk menenangkan dirinya. Hal kedua ini berhubungan dengan kekerasan yang ia alami waktu kecil.

Keberhasilan Sendy menyelesaikan penulisan buku ini tak lepas dari peran suami. Pak Handoko, suami Sendy, adalah seorang caregiver yang memahami keinginan isterinya. Ia memberi izin dan mendukung keinginan Sendy untuk membagi kisah hidupnya melalui buku.

Acara yang bertajuk Membuat 1 Buku Dalam 2 Hari Bersama Joeragan Artikel ini banyak menarik minat ibu-ibu warga sekitar dan dihadiri pula oleh para aktivis literasi di Bandung. Peserta yang hadir mendapat buku karya Sendy secara gratis pada akhir acara. Pelajaran yang dapat diambil dari buku ini adalah pentingnya orang tua memberi rasa nyaman kepada anak-anaknya. Seperti yang dikatakan Sendy pada akhir acara, “Saya menulis buku ini agar semua orang bisa belajar dari pengalaman saya dan bisa menjadi diri sendiri.”

Leave a Reply