Mungkinkah Mencegah Kanker? Sangat Mungkin, Ini Caranya

Pada tanggal 29 November 2017, Indari Mastuti, penggagas Sekolah Perempuan dan pemilik Indscript Creative, mengadakan sosialisasi pencegahan kanker di kantor tim Indscript, Bandung. Acara yang dimulai pada pukul  10. 11 WIB ini disiarkan secara langsung menggunakan fasilitas live video pada aplikasi facebook. Narasumber yang diundang adalah dr. Ayu Oktavia dari Lembaga Konsultan Kanker Indonesia (LKKI).

Dalam acara yang berdurasi sekitar 1 jam 10 menit, dr. Ayu menjelaskan tentang pentingnya pencegahan kanker serta cara hemat dan mudah untuk mencegah kanker.  Menurut dr. Ayu, faktor pemicu kanker ada empat jenis, yaitu faktor genetik, kimia-fisika, zat karsinogenik dalam makanan, dan cara memasak makanan yang salah. Jadi setiap orang memiliki kemungkinan untuk mengalami kanker tergantung faktor pemicu yang menerpanya.

Acara berlangsung seru dengan bermacam-macam pertanyaan dari peserta, baik yang hadir di tempat maupun yang menonton secara on-line. Topik yang paling menarik perhatian adalah pembahasan tentang kanker yang berhubungan dengan perempuan, mungkin karena mayoritas peserta adalah perempuan. Kanker yang dimaksud adalah kanker serviks, kanker rahim, kanker indung telur, dan kanker payudara. Namun, pria juga harus waspada dengan kanker payudara. “15% kanker payudara menyerang laki-laki, sedangkan 85% menyerang perempuan,” papar dr. Ayu.

Menurut dr. Ayu, pencegahan kanker terbagi menjadi pencegahan dari luar dan dari dalam. Pencegahan dari luar dapat dilakukan dengan menghindari faktor-faktor pemicunya plus berolah raga. Seluruh peserta sepakat bahwa hal yang paling sulit dilakukan adalah menghindari zat karsinogenik seperti pengawet dan penambah rasa.

Sementara itu, pencegahan dari dalam dilakukan melalui imunisasi atau mengonsumsi tanaman yang mengandung zat anti kanker. Imunisasi yang sudah ada adalah anti kanker serviks yang dilakukan dalam 6 bulan. Beberapa tanaman yang mengandung zat anti kanker adalah sirsak, benalu teh, dan temu putih. Menurut penelitian, temu putih dapat mengandung 95% zat anti kanker. Tanaman ini dikonsumsi selama 3 bulan untuk mencegah kanker selama 5 tahun.

Pada akhir acara, dr. Ayu mengatakan bahwa selain memberi penyuluhan secara gratis, LKKI bersedia membantu pengobatan untuk pasien kanker dan pemesanan kapsul temu putih yang direkomendasikan untuk mencegah kanker. “Syaratnya adalah pasien berasal dari kalangan kurang mampu dan membawa hasil pemeriksaan dokter yang terbaru,” ujar dr. Ayu. Bagi yang memerlukan, dr. Ayu dapat dihubungi pada nomor 081283893058 atau datang ke LKKI.

Dua Hari Untuk Menemukan-Mu dan Menemukannya

Sendy Hadiat (kanan) dan Natasya Wisaksono (kiri)

Pernahkah terbayangkan untuk menulis buku dalam waktu dua hari? Tentu tidak semua orang dapat melakukan hal tersebut. Namun, penulis yang satu ini mampu menyelesaikan penulisan otobiografinya selama dua hari. Dia adalah Sendy Hadiat, penulis buku Menemukan-Mu dan Menemukannya. Selain itu, yang lebih mengagumkan adalah kenyataan bahwa Sendy menulis di tengah perjuangannya untuk mengatasi bipolar disorder yang dideritanya.

Dalam acara peluncuran bukunya pada Minggu (3/12) di kantor Indscript Creative, Bandung yang disiarkan melalui live video pada aplikasi facebook, Sendy menceritakan pengalaman ketika menulis buku pertamanya ini. Kepada pemandu acara, Natasya Wisaksono dari Joeragan Artikel, Sendy menuturkan bahwa ia adalah peserta program Private Writing Coaching (PWC) dengan mentor Indari Mastuti. “Saya menulis dari jam 9 pagi sampai jam 8 malam pada hari pertama, sedangkan pada hari kedua dari jam 08.40 sampai jam 16.00,” ujar Sendy ketika ditanya mengenai cara penulisan bukunya.

Buku setebal 160 halaman ini menceritakan pengalaman hidup Sendy yang kurang mulus sejak kecil, menjadi penderita bipolar disorder, dan perjalanan hijrahnya menjadi muslim yang lebih baik. Menurut Sendy, ia sudah memiliki keinginan untuk menuliskan pengalaman hidupnya sejak beberapa tahun yang lalu. Untuk menuliskan kisahnya, ia mengaku melakukan persiapan tertentu. Pertama, menyiapkan fisik dan mental untuk mengingat kembali dan menceritakan pengalaman hidupnya yang pahit. Kedua, selalu menggenggam kapur barus dari merk tertentu untuk menenangkan dirinya. Hal kedua ini berhubungan dengan kekerasan yang ia alami waktu kecil.

Keberhasilan Sendy menyelesaikan penulisan buku ini tak lepas dari peran suami. Pak Handoko, suami Sendy, adalah seorang caregiver yang memahami keinginan isterinya. Ia memberi izin dan mendukung keinginan Sendy untuk membagi kisah hidupnya melalui buku.

Acara yang bertajuk Membuat 1 Buku Dalam 2 Hari Bersama Joeragan Artikel ini banyak menarik minat ibu-ibu warga sekitar dan dihadiri pula oleh para aktivis literasi di Bandung. Peserta yang hadir mendapat buku karya Sendy secara gratis pada akhir acara. Pelajaran yang dapat diambil dari buku ini adalah pentingnya orang tua memberi rasa nyaman kepada anak-anaknya. Seperti yang dikatakan Sendy pada akhir acara, “Saya menulis buku ini agar semua orang bisa belajar dari pengalaman saya dan bisa menjadi diri sendiri.”